Masjid Sebagai Benteng Pertahanan Masyarakat dari Paham Radikalisme dan Terorisme Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius (paling kanan). (Foto Dok BNPT)

Kehadiran masjid di tengah masyarakat diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan masyarakat dari paham radikalisme dan terorisme. Peran masjid sebagai tempat untuk mendidik anak-anak sejak usia dini agar terhindar dari paham radikalisme dan terorisme.

"Dengan hadirnya masjid maka doktrin-doktrin yang tidak baik akan dengan mudah dihindari. Kita komitmen, negara hadir untuk menanggulangi terorisme. Ini bentuk dan komitmen dalam rangka mencegah paham radikalisme,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius saat meresmikan masjid dan ruang belajar di Pondok Pesantren Al-Hidayah, di Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (24/2) kemarin.

Pondok Pesantren Al-Hidayah ini dibina oleh mantan terpidana kasus terorisme, Khairul Ghazali, dimana dia pernah terlibat dalam kasus perampokan Bank CIMB Niaga pada tahun 2010 silam.

Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius saat peresmian Pondok Pesantren Al-Hidayah. (Foto Dok BNPT)

Suhardi menyampaikan penanggulangan terorisme bukan hanya menembak atau menangkap, tapi dengan menghadirkan juga negara di tengah-tengah masyarakat salah satunya melalui pembangunan masjid di tengah-tengah masyarakat.

“Anak-anak harus diberi pendidikan yang baik dan benar agar terhindar dari paham dan aksi terorisme. Dimana pembina dari pesantren ini adalah ustad Khairul Ghazali yang pernah menjadi pelaku. Dia (Ghazali ) yang akan memberikan pemahaman yang benar kepada anak-anak di pesantren ini bahwa jihad yang benar itu bukan merampok atau melakukan teror,” ujar mantan Kapolda Jawa Barat ini.

Oleh karena itu, menurutnya, keberadaan pesantren Al-Hidayah membuktikan komitmen BNPT dan masyarakat untuk mencegah dan mewaspadai bahaya terorisme. “Ini juga sebagai wujud komitmen dan komunikasi yang baik antara BNPT dengan warga sekitar Pondok Pesantren dalam mendukung program nasional pemerintah sekaligus sebagai kepentingan BNPT dalam melakukan pembinaan, pencegahan sekaligus waspada terhadap bahaya radikalisme dan terorisme,” jelasnya.

Suhardi mengatakan program pembangunan masjid ini akan berlanjut ke Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

“Di Jawa Timur kami akan bicara dengan Ali Fauzi (mantan pelaku teror yang juga adik kandung dari terpiudana mati kasus bom Bali, Amrozi) mengenai rencana ini. Jadi ini bukan sekedar wacana, kita langsung aksi. Masjid ini kita bangun selama 5 bulan. Menaranya saja dikerjakan selama 11 hari 24 jam nonstop,” ujar mantan Wakapolda Metro Jaya ini.

Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius bersama mantan napi terorisme, Khairul Ghazali (kanan). (Foto Dok BNPT)

Sementara itu mantan napi terorisme, Khairul Ghazali menyatakan paham radikalisme dan terorisme tidak muncul tiba-tiba tapi melalui sebuah proses panjang. Ada proses panjang yang menyebabkan radikalisme dan terorisme lahir dan berkembang. Ini juga berarti bahwa penanggulangan terorisme tidak bisa dilakukan dengan singkat pula. Tambahan masjid megah dan dua ruang belajar untuk pesantrennya ia anggap sebagai bagian dari upaya penanggulangan terorisme yang tidak bisa dilakukan secara kilat tersebut.

“Radikalisme dan terorisme tidak terjadi mendadak, ia juga tidak akan habis dengan tiba-tiba, ada proses panjang yang perlu dilalui (untung menghabisi terorisme),” ungkapnya.

Oleh karens itu, Khairul Ghazali menekankan pentingnya melindungi anak-anak dari bahaya radikalisme dan terorisme. Melalui pesantren ini, Khairul Ghazali ingin memberikan pemahaman keagamaan yang baik kepada anak-anak. Sehingga ketika besar nanti, mereka bukan saja terhindar dari bahaya radikalisme dan terorisme, tetapi juga bisa mengajak orang tua mereka untuk menyadari kesalahan dan kembali ke jalan yang benar. Menurutnya di pesantren ini ada 70 anak-anak yang orang tuanya terlibat jaringan terorisme. Mereka menjadi target deradikalisasi agar kembali ke jalan yang benar.



Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH