Masjid Pejlagrahan, Tajug Pertama di Kota Cirebon Tajug Pejlagrahan, Cikal bakal Masjid Agung Cirebon (MP/Mauritz)

Masjid Pejlagrahan merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah yang ada di Kota Cirebon, Jawa Barat. Menurut cerita Masjid Pejlagrahan merupakan masjid paling pertama dan dibangun oleh Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu. Bangunan masjid ini berada di Kampung Grubugan, Kelurahan Kasepuhan Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Pada jaman dulu, bangunan masjid ini bukan saja digunakan sebagai tempat sholat akan tetapi dijadikan sebagai tempat menimba ilmu keagamaan bagi umat Islam pada saat itu.

Menurut riwayat lisan yang diwariskan turun-temurun oleh kepengurusan Masjid Pejlagrahan dibangun pada tahun 1540 Masehi, 100 tahun sebelum didirikannya Masjid Sang Cipta Rasa.

Ketua Pengurus Tajug (Masjid) Pejlagrahan, Sulaiman (64) menuturkan, menurut cerita lisan bahwa dibangunnya masjid tersebut di pinggir laut. Namun karena lama kelamaan mengalami pendangkalan pada akhirnya seperti sekarang sangat jauh dari laut.

"Ya katanya dulu itu pas tepat di depan masjid ini, lautan. Jadi sengaja dibangun untuk para nelayan dan warga sekitar untuk melakukan ibadah serta mencari ilmu keagamaan. Masjid Pejlagrahan merupakan tajug tertua yang ada di Cirebon, sebelum adanya keraton di Cirebon," ungkap Sulaiman.

Ia menceritakan, Masjid Pejlagrahan sudah lebih dulu ada sebagai tempat mentransfer ilmu keagamaan yang dilakukan oleh Pangeran Cakrabuana bagi orang-orang sekitar maupun para nelayan yang berdatangan ke tempat tersebut.

"Bisa dikatakan dibangun lebih dulu dari keraton Cirebon, buktinya Masjid ini berada di luar pagar Keraton Kasepuhan," ucapnya.

Peninggalan Pangeran Cakrabuana di tajug tersebut, selain bangunannya ada sebagian yang masih orisinil, juga banyak peninggalan-peninggalan lainnya yang berusia ratusan tahun.

Masjid Pejlagrahan Cirebon
Masjid Pejlagrahan, Cirebon (MP/Mauritz)

"Yang masih ada dari sejak dulunya seperti tembok bagian bawah, empat tiang yang terbuat dari kayu jati beserta kayu-kayu untuk bagian atap, kemudian dua jembangan (tempat wudlu), memolo, mimbar, tongkat untuk kutbah, dan dua sumur," jelasnya.

Dua sumur yang ada di tajug tersebut, jelasnya, airnya tidak pernah kering dan hingga kini masih digunakan baik untuk keperluan berwudlu maupun kebutuhan masyarakat sekitar. Bahkan, kata dia, sewaktu Cirebon mengalami kemarau panjang yang mengakibatkan warga Cirebon kekurangan air, semuanya berbondong-bondong mengambil air dari sumur tersebut.

"Dan banyak juga para pendatang baik warga Cirebon sendiri maupun dari luar Cirebon meminta air sumur tersebut untuk syarat. Jadi banyak mengeramatkan air sumur ini," katanya.

Di samping itu, kata dia, dari dulu hingga sekarang juga tidak pernah absen para peziarah mengunjungi Masjid Pejlagrahan tersebut, terutama di setiap malam jumat. Tidak sedikit pula yang melakukan tirakat di tajug yang bersejarah atau hanya sekadar berkunjung melihat bangunan.

"Bahkan ada rombongan yang rutin setiap malam tertentu melakuklan doa bersama," imbuh dia.

Disebutkannya, meski Masjid Pejlagrahan sudah ditetapkan pemerintah daerah sebagai benda cagar budaya. Namun, pihaknya tidak pernah meminta bantuan untuk keberlangsungan pengurusan tajug tersebut. Karena menurutnya pengurus tajug yang berjumlah 9 orang hanya ikhlas mengurus peninggalan yang amat bersejarah tersebut.

"Karena kami mempunyai prinsip. Apa yang dititipkan oleh Sunan Gunung Jati salah satunya ialah titip tajug atau masjid. Maka kami berusaha untuk menghidupkan atau menjalani pesan dari Sunan Gunung Jati itu, tapi kalau pemerintah mau memberi ya silakan saja," tukasnya.(Mauritz)

Di Cirebon juga terdapat masjid bersejarah lainnya, yaitu: Masjid Pejlagrahan, Cikal Bakal Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH