Masjid Jami Al Makmur, Cahaya di Tengah Bisingnya Kota Masjid Jami Al Makmur, Cikini, Jakarta Pusat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

MerahPutih Tradisi – Bisingnya suara dan polusi asap hitam knalpot bus Kopaja, mengepul memburai sehingga sedikit menggangu lingkungan dan juga para pejalan kaki di sekitar Jalan Raya Raden Saleh. Belum lagi riuh ratusan klakson mobil yang saling bersahutan, membuat keadaan semakin tidak nyaman dan juga aman bagi siapa pun makhluk yang berada di area sekitar.

Meski demikian, persis di samping jembatan yang mengalir deras air sungai Ciliwung, nampak bangunan tua yang berdiri kokoh seolah memberikan setitik cahaya bagi masyarakat sekitar untuk sekadar singgah melepas lelah ataupun melakukan ibadah. Tempat itu ialah Masjid Jami Al Makmur, Cikini, Jakarta Pusat.

Masjid Jami Al Makmur, Cikini, Jakarta Pusat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Tidak seperti surau biasa, menurut imam besar masjid tersebut memiliki usia lebih dari 100 tahun dan ada pengaruh dari salah satu tokoh Pahlawan Nasional, yakni Raden Saleh.

“Tanah ini, dulunya milik Syarif Bustaman atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Saleh. Pada tahun 1840, Syarif Bustaman dan masyarakat sekitar membangun sebuah surau sederhana yang terbuat dari kayu dan gedek di samping tempat tinggalnya (sekarang RS PGI Cikini),” ucap H Sahlani selaku Imam Besar Masjid Jami Al Makmur, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/1).

Masjid Jami Al Makmur, Cikini, tempo dulu. (Foto: Istimewa)

Bagi H Sahlani, sosok Syarif Bustaman bukan hanya sekadar pahlawan nasional yang hebat, tapi juga merupakan sosok yang taat terhadap agama Islam. Dan namanya semakin mendunia tatkala, salah satunya, terkait lukisannya tentang jebakan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh kompeni Belanda. “Dari saya masih kecil, kakek saya selalu menceritakan kisah kealiman Syarif Bustaman atau Raden Saleh. Selain cinta negara, beliau juga sangat berpegang teguh dengan agamanya,” ujar H Sahlani yang juga merupakan Ketua Masjid Jami Al Makmur, Cikini.

Pada tahun 1960, papar H Sahlani, ketika Raden Saleh hendak mempersunting putri asal Bogor, semua tanahnya pun dijual, tetapi tidak termasuk area masjid yang sudah diwakafkannya untuk masyarakat. “Pada waktu itu, surau tersebut sangat sederhana. Dindingnya masih terbuat dari bilik bambu dengan ukuran kecil layaknya rumah panggung. Dan letak awalnya berada di belakang rumahnya yang sekarang menjadi RS PGI Cikini,” paparnya.

“Raden Saleh menjual seluruh tanah miliknya (tidak termasuk masjid) kepada seorang tuan tanah keturunan Arab, keluarga Alatas. Kemudian, tanah semua itu diwariskan kepada anaknya yang bemama Ismail Alatas,” tambah H Sahlani.

Setelah menjadi kepemilikan keluarga Alatas, H Sahlani juga memaparkan bahwa nama jalan tersebut lebih dikenal dengan nama Alatas Land. Kemudian, setelah diwariskan kepada anaknya, Ismail Alatas, tanah tersebut dijual kembali kepada Koningen Emma Stichting (Yayasan Ratu Emma). “Beliau tidak tahu sejarah bahwa tanah masjid telah diwakafkan, tidak dijual. Dan ketika dibeli oleh Nyonya Emma, asal Belanda, tanah tersebut mau digunakan untuk kegiatan sosial seperti mendirikan rumah sakit, gereja, dan gedung pertemuan untuk agama Kristen,” paparnya.

Sejak saat itulah, jelas H Sahlani, perdebatan mengenai keberadaan surau mulai mencuat. Nyonya Emma yang juga tidak tahu ihwal sejarah tanah wakaf itu justru mengklaim bahwa masjid yang didirikan Raden Saleh dan warga sudah menjadi miliknya dan hendak dihancurkan untuk dibangun RS PGI Cikini.

“Sebenarnya, mereka (Yayasan Emma) maunya tidak ada masjid di sekitar sana, kalau memang warga mau tidak dihancurkan. Akhirnya, terjadilah perundingan yang membuahkan bahwa Masjid Jami Al Makmur, Cikini, dipindahkan beberapa meter dari tempat asalnya,” jelasnya.

Dan perpindahan itu pun cukup terbilang unik, dalam hal itu, H Sahlani menuturkan bahwa warga bergotong-royong dengan cara membuat masjid secara simbolis yang terbuat dari bilik dan ditandu dengan batang bambu menuju tempat yang sekarang ini.



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH