Komnas HAM Menilai Polisi Lamban Ungkap Kasus Novel Novel Baswedan menyapa wartawan saat akan dirujuk ke rumah sakit khusus mata di Jakarta, Selasa (11/4). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, telah berjalan selama satu bulan. Namun, hingga kini pihak kepolisian belum mampu mengungkap pelaku teror tersebut.

Ketua Komnas HAM, Nur Kholis mengatakan, jika teror terhadap Novel tidak terungkap, maka akan menimbulkan preseden buruk terhadap penegakkan hukum di Indonesia.

Ia menilai, hal itu akan menimbulkan ketakutan terhadap penyidik KPK yang lain.

"Karena begini, kalau kasus ini tidak terungkap akan menimbulkan efek takut para penyidik lain di KPK itu. Bisa jadi preseden dalam arti, oh, ini gak terungkap bisa jadi nanti ada kejadian lagi," kata Nur Kholis di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/5).

Menurut Nor Kholis, jika pihak kepolisian mampu mengungkap pelaku penyerangan terhadap Novel, hal itu akan menimbulkan efek jera bagi para pelaku teror. Ia berkeyakinan, pihak kepolisian dalam waktu dekat mampu mengungkap kasus tersebut.

"Seperti kasus Novel Baswedan, itu juga tidak berulang itu, 'kan biar ada efek Jera pada pelaku. Ini penting sekali polisi mengungkap yang sebenarnya, saya yakin polisi bisa," tandasnya.

Untuk diketahui, Novel Baswedan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Singapura, lantaran selaput kornea mata dari Novel masih mengalami pertumbuhan yang sangat lambat.

Novel mendapatkan teror penyiraman air keras oleh dua orang tak dikenal saat pulang dari salat Subuh di masjid dekar rumahnya, di Kepala Gading, Jakarta Utara pada 11 April 2017. (Pon)

Baca berita terkait kasus Novel Baswedan lainnya di: Polisi Kantongi Identitas Penyiram Novel Baswedan



Noer Ardiansjah

YOU MAY ALSO LIKE