Klenteng Tjoe Soe Kong Tempat Pengungsian Korban Letusan Krakatau Klenteng Tjoe Soe Kong yang pernah jadi tempat menggungsi korban Krakatau. (MP/Widi Hatmoko)

Klenteng Tjoe Soe Kong Tanjung Kait ternyata memiliki sejarah panjang pada saat terjadinya tsunami akibat letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Di klenteng ini, dijadikan sebagai tempat pengungsian oleh ribuan orang yang kala itu terkenda dampak bencana alam terbesar dalam sepanjang sejarah tersebut.

Budayawan Tangerang sekaligus penulis buku "Dari Titian Sejarah Menuju Gerbang Pembangunan", Mimy Chaitamy mengungkapkan, dalam peristiwa tersebut lebih dari 36ribu jiwa yang meninggal dunia. "Dulu klenteng ini pernah jadi tempat pengungsian, waktu Gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883. Waktu itu terjadi 4 kali letusan, korban sekitar 36ribu jiwa. Bahkan, getarannya samapai Eropa,"ujar Mimy Chaitamy kepada merahputih.com.

Patung sepasang singa di dekat pagoda Klenteng Tjoe Soe Kong Tanjung Kait, Mauk, Kabupaten Tangerang. (MP/Widi Hatmoko)

Dampak dari letusan tersebut, tsunami menenggelamkan wilayah-wilayah pesisir pantai di daerah Banten dan Lampung. Di sekitar Klenteng Tjoe Soe Kong ini, tadinya ada beberapa desa, yang diantaranta adalah Desa Keramat, Desa Ketapang dan Desa Tanjung Kait. Namun Desa Desa Keramat habis, ikut tenggelam. Yang tersisa hanya Desa Ketapang, Desa Tanjung Kait dan sekitar klenteng.

"Desa Ketapang dan Desa Tanjung Kait sempat terkena dampak banjir, tapi tidak sampai tenggelam. Dan orang-orang dari berbagai daerah yang terkena dampak letusan Gunung Krakatau ini, berkumpul di sekitar klenteng, untuk mengungsi," katanya.

Klenteng Tjoe Soe Kong Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. (MP/Widi Hatmoko)

Sampai saat ini pun, kondisi bangunan klenteng tersebut masih berbentuk aslinya. Sepasang patung batu singa yang berdiri di depan bangunan utama kelenteng, yang disumbang oleh Zhang De Hai pada tahun 1833 ini juga masih berdiri kokoh, tidak berubah bentuk dan posisinya. Sementara, tempat pembakaran kertas doa dan pengharapan (lian) di kanan bangunan utama yang dibangun 1873 pun, masih asinya. Lian itu adalah sumbangan Huang Qingsong dari Tingzijiao atau Pasar Gelap Batavia).Dan, lian yang berdiri di sebelah kiri, yang disumbang Zheng Cheng An pada 1868 juga masih utuh dalam bentuk aslinya.



Widi Hatmoko

LAINNYA DARI MERAH PUTIH