Kisah Eno, Pedagang Bakso yang Berhasil Kuliahkan Anaknya ke UGM dan IPB Bakso Mas Eno, Kota Bandung. (MP/Rina Garmina)

Kalau saja Eno (56) tidak bertekad mengubah nasib, mungkin sampai sekarang tetap menjadi petani yang bekerja di lahan orang.

“Dulu saya merantau dari Solo ke Bandung dengan tekad untuk memperbaiki taraf hidup,” tutur Eno, pemilik Kedai Bakso Mas Eno, Minggu (26/2).

Tak hanya kuliner baksonya yang terkenal di Kota Bandung. Eno juga merupakan salah satu contoh pedagang rantau yang gigih di Kota Bandung. Ia berhasil menunjukkan bahwa kecintaan terhadap keluarga membuat dirinya bisa keluar dari keterbatasan ekonomi, hingga ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya lulus perguruan tinggi elite di negeri ini.

Mas Eno memiliki tiga orang anak. Anak pertama dan kedua, masing-masing telah lulus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Sementara anaknya yang bungsu masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Bakso Mas Eno. (MP/Rina Garmina)
Bakso Mas Eno. (MP/Rina Garmina)

Kepada merahputih.com, Eno atau biasa dipanggil Mas Eno bercerita bahwa ia hijrah ke Bandung pada 1980. Awal menginjakkan kaki di Kota Bandung, ia berdagang bakso dengan cara dipikul. Setelah itu, ia mencoba berdagang menggunakan gerobak. Setelah bisnisnya mulai berkembang, Mas Eno pun mulai menyewa tempat dan sudah empat kali pindah hingga akhirnya ia berhasil memiliki kedai sendiri.

“Biaya untuk membangun kedai ini dibantu juga oleh anak-anak saya,” ungkapnya.

Kedai yang dibangunnya di Jalan Ciwastra Nomor 18 tahun 2003 berlantai dua. Lantai pertama, ia gunakan untuk berdagang bakso, mie ayam, dan mie yamin. Lantai kedua, dijadikan sebagai tempat tinggal dan tempat produksi. Dibandingkan tahun 1980, saat ia masih berjualan bakso dengan cara dipikul, pendapatannya jauh lebih besar.

Berjualan dengan cara dipikul memiliki keterbatasan. Ia tidak dapat membawa bakso terlalu banyak dalam pikulannya. Jadi, tidak heran kalau dahulu Eno hanya membutuhkan daging sapi kurang dari 1 kilogram dalam sehari. Sementara sekarang, ia membutuhkan 5-10 kilogram daging sapi untuk memenuhi pesanan 200 mangkuk mie bakso per hari. Harga mie ayam, mie bakso dan mie yamin yang dijualnya berkisar dari Rp8 ribu hingga Rp14 ribu per mangkuk.

Bakso Mas Eno. (MP/Rina Garmina)
Bakso Mas Eno. (MP/Rina Garmina)

Dibandingkan saat ia masih menyewa tempat, penjualan 200 mangkuk sehari itu sudah jauh menurun. “Persaingan semakin ketat. Sekarang makin banyak orang yang menawarkan bakso,” ujarnya.

Meski begitu, ia tidak patah arang. Bisnis bakso yang telah dirintis sejak 1980 itu tetap dijalani hingga sekarang, demi si bungsu.

Berita ini merupakan laporan dari Rina Garmina, kontributor merahputih.com untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Baca juga berita lain dari Rina di: 4 Trik Memilih Kaki dan Kikil Sapi ala Mih Kocok Mang Dadeng



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH