Kawasan Wisata Pantai Tanjung Kait Tangerang Semrawut Pemandangan bibir Pantai Tanjung Kait yang dijejali gubuk-gubuk liar. (MP/Widi Hatmoko)

Kawasan wisata bahari Pantai Tanjung Kait, Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang kondisinya semrawut dan tidak dikelola dengan baik. Padahal, kawasan ini merupakan salah satu destinasi idola masyarakat Tangerang dan sekitarnya.

Saat ini, kawasan Pantai Tanjung Kait, selain kumuh dan banyak berdiri gubuk liar, juga sudah mengalami abrasi yang cukup parah. Namun dalam kondisi seperti ini, masih ada saja oknum warga yang memanfaatkannya untuk mengais rezeki dengan melakukan pungutan terhadap pengunjung yang masuk ke kawasan tersebut dengan tarif lumayan mahal. Untuk pengunjung dengan menggunakan sepeda motor bisa dikenakan pungutan antara Rp 10ribu hingga Rp30ribu atau bahkan Rp 50ribu.

Madi (45), salah seorang warga yang tinggal di kawasan Pantai Tanjung Kait mengungkapkan, pungutan masuk ke kawasan wisata Tanjung Kait ini dilakukan oleh warga dan pemuda setempat. Untuk sekali masuk, menurut Madi, sebenarnya untuk sepeda motor hanya dikenakan Rp 10ribu.

Perahu sewaan sedang bersandar di pinggir Pantai Tanjung Kait Tangerang (MP/Widi Hatmoko)

Namun karena setiap titik ada pengelolanya masing-masing, untuk pengunjung yang memasuki kawasan yang beda pengelolanya harus dikenakan tarif lagi. Masing-masing lokasi yang dikelola oleh kelompok orang yang berbeda ini pemandangannya sama saja, dan tidakada fasilitas permainan layaknya kawasan pantai yang berpasir putih, yang bisa menjadi ajang bermain pasir atau mandi di pantai. Pengunjung hanya bisa melihat pantai yang kumuh dan hamparan pantai yang dipenuhi ratusan bagan nelayan.

"Sekali masuk sebenarnya cuma Rp 10ribu, tapi kan masing-masing ada pengelolanya. Jadi setiap masuk kawasan yang berbeda, ya bayar lagi sama pengelolanya," ungkap Madi kepada merahputih.com.

Ia juga mengungkapkan, pada tahun 90-an kawasan pantai ini masih indah, dan pengunjung masih bisa turun bermain ombak dan pasir di pantai. Namun karena sudah mengalami abrasi dan berlumpur, pengunjung hanya bisa melihat dari tepian sambil menikmati kuliner laut yang dijajakan oleh para pedagang. Selebihnya, peling hanya menyewa perahu nelayan. Pengunjung Pantai Tanjung Kait sendiri sampai saat ini masih banyak, terutama pada saat hari libur.

"Sekarang ya begini, kan udah kena abrasi. Paling cuma lihat-lihat pantai sambil makan ikan bakar.Tapi pengunjung masih banyak, apalagi kalau pas liburan tanggal merah," katanya.



Widi Hatmoko

YOU MAY ALSO LIKE