Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Jurus Jokowi Menggenjot Swasembada Beras

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Senin, 23 Februari 2015
Jurus Jokowi Menggenjot Swasembada Beras

Presiden Joko Widodo sedang menanam padi di persawahan kampung Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (Foto:Antara)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Nasional - Persoalan ketahanan pangan nasional rupanya menjadi cermin dari kekuatan serta kewibawaan suatu bangsa. Indonesia yang sudah menjadi negara berdaulat selama 7 dekade masih tertinggal dalam soal kedaulatan rakyat atas pangan. Sementara, negara tetangga yang belakangan resmi berdaulat dibanding Indonesia sudah jauh lebih mapan dalam soal mengenyangkan perut sekaligus dompet rakyat mereka.

Presiden Joko Widodo mengaku malu saat ditanya Presiden Vietnam terkait pembelian beras dari Vietnam. Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), Indonesia adalah negara paling luas di Asia Tenggara dan mempunyai beberapa provinsi yang bergelut dalam bidang pangan, khususnya beras. Berkaca dari realita itulah Jokowi berharap ke depan bangsa Indonesia tidak lagi mengimpor beras dan harus harus berdaulat dalam bidang pangan.

"Saya malu waktu ketemu Presiden Vietnam di ASEAN Summit ditanyakan, Presiden Jokowi kapan beli beras lagi dari Vietnam,” ujar Jokowi pada akhir Desember 2014 silam.

Kepala Negara menegaskan tidak ingin ada pertanyaan seperti itu lagi. Karena itu Presiden Jokowi memerintahkan Menteri Pertanian agar bisa mewujudkan swasembada pangan maksimal dalam waktu tiga tahun, termasuk beras. Ia menilai, Indonesia memiliki kemampuan untuk swasembada pangan.

Menurut Presiden, problem utama pertanian kita adalah rendahnya tingkat produksi. "Saya kalau ke daerah selalu tanya, 1 hektare panen berapa ton, jawabannya paling 4,5 ton sampai 6 ton. Enggak pernah 8 ton,” ungkap Jokowi geram.

Presiden menilai, salah satu persoalan rendahnya tingkat produksi pertanian itu adalah karena tidak ada insinyur yang mendampingi para petani di sawah. Karena itu, Presiden Jokowi meminta kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, agar para insinyur pertanian tidak hanya berdiam diri di kantor. Para penyuluh pertanian harus banyak berada di lapangan. Merasakan panas dan keringat petani.

Berikut dua langkah dari pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla melalui Kementerian Pertanian untuk menggenjot swasembada pangan khususnya komoditas beras sebagai makanan pokok rakyat Indonesia. (mad)


Anggaran Pertanian Semakin Jumbo

Kementerian Pertanian (Kementan) kini dapat tersenyum lebar. Pasalnya, pemerintah pada anggaran 2015 mengguyur kementerian yang dipimpin Amran Sulaiman ini dengan anggaran yang fantastis, Rp32 triliun. Jauh dari pagu yang alokasi anggaran sebelumnya sebesar Rp15,4 triliun.

"Baru kali ini besar sekali, sampai Rp30 triliun lebih," ujar Kasubdit. Padi Irigasi Wasito Hadi pada merahputih.com ketika ditemui di kantor Ditjen Tanaman Pangan, Selasa (17/2).

Dana sebesar itu, kata Wasito, akan digunakan untuk perbaikan irigasi tersier. Sedangkan untuk irigasi primer dan sekunder ditangani Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Sebanyak 2,6 hektare yang dikerjakan Kementan yaitu irigasi tersier. Tersier itu yang langsung ke petak petani. Kalau sekunder dan primer ke PUPR," katanya.

Untuk mengawasi dana yang sebesar itu, kata Wasito, dalam pelaksanaannya digunakan sistem CLCP, yakni calon lokasi calon petani. Dalam sistem tersebut memudahkan pengawasan, karena dapat terpantau hingga titik koordinat yang akan diperbaiki.

"Misal 100 meter diperbaiki, tumpang tindih enggak bisa dicek. Untuk dapat ini ada survei. Pengawasan lain dari internal, ada Itjen, Bawasda," imbuh dia.

Untuk memperbaiki irigasi ini, lanjut Wasito, pihaknya juga melibatkan aparat TNI. "TNI, Babinsa diikutsertakan. Kami ada MoU Mentan dengan KSAD, Panglima TNI untuk mengawal UPSUS (upaya khusus) ini," tandasnya.

Diharapkan program perbaikan irigasi ini dapat menambah produksi padi gabah dari 70 juta ton per tahun menjadi sekitar 73 juta ton. Menurut Mentan Amran Sulaiman ada dua kunci kebijakan yang mendukung arah swasembada pangan yakni membenahi infrastruktur dan pelayanan kepada pemangku kepentingan pertanian. Hal itu dijabarkan dalam bentuk perbaikan besar-besaran irigasi pertanian, benih unggul, penyediaan pupuk, serta alat pertanian yang memadai termasuk di dalamnya meningkatkan mutu pelayanan dan penyuluhan kaum petani.

 

 

 

Layanan Penyuluhan Dipermudah

Pernahkah Anda mengalami kesulitan dalam menentukan kapan masa tanam, jenis varietas yang cocok untuk ditanam di daerah Anda serta pupuk apa yang sesuai? Kini kaum petani tak perlu mondar-mandir atau mengikuti birokrasi yang rumit.

Pasalnya, pusat penelitian dan pengembangan Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki program Katam (Kalender Tanam). Program ini cukup mudah diakses. Melalui jaringan media sosial interaksi antara Kementan sebagai penyuluh dan pembina sektor pertanian dengan
kalangan petani semakin erat dan mudah diakses kapan saja.

Anda hanya cukup mengirimkan pesan layanan pendek atau Short Message Service (SMS) ke nomor 081235651111 maupun 082123456500 untuk menanyakan, kapan masa tanam, jenis pupuk dan varietas yang cocok sesuai daerah yang diinginkan.

"Ketik info katam (nama admistrasi/kecamatan), untuk kapan tanam. Kalau pupuk ketik info pupuk (padi/jagung/kedelai) (nama kecamatan), kalau varietas ketik info varietas (padi/jagung/ kedelai) (nama administrasi)," kata Kasubdit Padi Irigasi, Wasito Hadi kepada merahputih.com, di kantor Ditjen. Tanaman Pangan, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (17/1).

Warsito menejaskan, setelah petani mengirim SMS tersebut akan mendapat balasan dari Litbang Kementan. Tarif SMS standar normal. Program ini sebenarnya sudah berlangsung sejak dua tahun lalu.

"Kalau era Kelompencapir itu dulu (petani) mengikuti siaran radio, kalau sekarang sudah ada internet enggak perlu kumpul-kumpul lagi. Layanan ini termasuk info pasar," tukasnya.

 

 

 

#Kementerian Pertanian #Ketahanan Pangan #Swasembada Pangan #Swasembada Beras #70 Tahun Indonesia Merdeka
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Prabowo Tanggapi Kritik Harga Beras, Tegaskan Petani Berhak Mendapat Penghasilan Layak
Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik soal harga beras. Ia menegaskan petani berhak memperoleh penghasilan yang layak.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 18 Juli 2026
Prabowo Tanggapi Kritik Harga Beras, Tegaskan Petani Berhak Mendapat Penghasilan Layak
Indonesia
Prabowo Resmikan Lima Bendungan Senilai Rp 9,79 Triliun, Jadi Kunci Ketahanan Pangan hingga Energi Hijau
Presiden Prabowo meresmikan lima bendungan di lima provinsi dengan total anggaran Rp9,79 triliun. Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung irigasi puluhan ribu hektare lahan.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 10 Juli 2026
Prabowo Resmikan Lima Bendungan Senilai Rp 9,79 Triliun, Jadi Kunci Ketahanan Pangan hingga Energi Hijau
Indonesia
Luncurkan B50, Prabowo: Berdosalah Pemimpin Yang Berbohong Kepada Rakyat
Presiden juga mengatakan sejak sebelum dilantik dirinya telah menekankan kepada tim inti dan para penasihatnya pentingnya mewujudkan swasembada pangan
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 09 Juli 2026
Luncurkan B50, Prabowo: Berdosalah Pemimpin Yang Berbohong Kepada Rakyat
Indonesia
Titiek Soeharto Minta Mitigasi El Nino Dipercepat demi Lindungi Ketahanan Pangan Nasional
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto meminta mitigasi El Nino dilakukan secara cepat dan terintegrasi guna menjaga produktivitas pertanian, peternakan, dan ketahanan pangan nasional.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 04 Juli 2026
Titiek Soeharto Minta Mitigasi El Nino Dipercepat demi Lindungi Ketahanan Pangan Nasional
Indonesia
Prabowo dan Presiden Belarus Luncurkan Peta Jalan Kerja Sama 2026–2030, Fokus Pangan hingga Pertahanan
Prabowo Subianto dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko meluncurkan Peta Jalan Kerja Sama Indonesia–Belarus 2026–2030 yang mencakup pangan, perdagangan, industri, hingga pertahanan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 02 Juli 2026
Prabowo dan Presiden Belarus Luncurkan Peta Jalan Kerja Sama 2026–2030, Fokus Pangan hingga Pertahanan
Indonesia
Prabowo Ungkap Indonesia Mau Buka Ekspor Bahan Pangan, Asal Petani Tak Rugi
Prabowo mengatakan Indonesia kini memiliki surplus pupuk sehingga dapat memenuhi kebutuhan negara lain yang mengajukan permintaan.
Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Prabowo Ungkap Indonesia Mau Buka Ekspor Bahan Pangan, Asal Petani Tak Rugi
Indonesia
Presiden Prabowo: Kita tak akan Swasembada Satu Tahun, tapi Seterusnya
Prabowo menegaskan hasil yang mulai terlihat saat ini merupakan buah dari kerja keras yang telah dilakukan selama beberapa waktu.
Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Presiden Prabowo: Kita tak akan Swasembada Satu Tahun, tapi Seterusnya
Indonesia
Prabowo Ingin Tiap Desa Swasembada, Bakal Tercapai Dengan Inovasi
Peningkatan produktivitas pertanian itu memperkuat upaya Indonesia menuju swasembada pangan dan lumbung pangan dunia.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 24 Juni 2026
Prabowo Ingin Tiap Desa Swasembada, Bakal Tercapai Dengan Inovasi
Indonesia
Prabowo Klaim Indonesia Surplus Pangan, Australia Minta Pasokan Pupuk dari RI
Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berada dalam posisi kuat di sektor pangan. Ia mengungkap Australia dan sejumlah negara lain meminta pasokan pupuk.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 24 Juni 2026
Prabowo Klaim Indonesia Surplus Pangan, Australia Minta Pasokan Pupuk dari RI
Indonesia
Harga Ayam dan Telur Anjlok, Pemerintah Dorong Konsumsi Lewat BGN
Pemerintah merespons penurunan harga ayam dan telur. Kementerian Pertanian pun berharap, SPPG bisa menyajikan menu tersebut tiga kali seminggu.
Soffi Amira - Kamis, 18 Juni 2026
Harga Ayam dan Telur Anjlok, Pemerintah Dorong Konsumsi Lewat BGN
Bagikan