Jejak Freemason di Museum Taman Prasasti Museum Taman Prasasti, Tanah Abang I, Jakarta. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Selain memajang hiasan cetakan batu epigrafi dan ornamen litografi khas Eropa, yang melekat pada setiap nisan, Museum Taman Prasasti ternyata menyimpan kabut misteri tentang pergerakan salah satu organisasi berbahaya dunia, Freemason.

Hal tersebut nampak jelas dengan banyaknya simbol-simbol Freemason yang terdapat di area museum. Bahkan, di samping pintu masuk museum terdapat sebuah simbol Jangka yang di atasnya tersemat simbol Mata dan Segitiga.

Lambang organisasi Freemason di samping pintu masuk Museum Taman Prasasti, Tanah Abang I, Jakarta. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Menurut sejarawan Wenri Wanhar, orang-orang Freemason memang memiliki lambang-lambang atau simbol-simbol sendiri yang disebut dengan Saror.

Saror merupakan bahasa Freemason, yang memiliki arti tersembunyi, sangat tersembunyi, dan rahasia. Saror itu berbentuk lambang, gerakan tangan, siulan, relief, patung, angka-angka, dan juga warna. Ordo Freemason menggunakan itu ketika berkontak dengan kaumnya,” ujar Wenri Wanhar kepada merahputih.com, Rabu (1/3).

Di Museum Taman Prasasti, kata Wenri, lambang-lambang organisasi berserakan. Namun, tidak dengan mudah diartikan begitu saja. “Karena itu, makna dari lambang mereka tersembunyi, sangat tersembunyi, dan rahasia. Sulit untuk dicerna begitu saja,” kata Wenri.

Lambang Skull yang merupakan salah satu ciri khas Freemason. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Sebagai catatan tambahan, Wenri juga menjelaskan bahwa pada zaman kolonial Belanda, Freemason merupakan salah satu organisasi yang legal. Bahkan, banyak dari kaum nasionalis yang ikut dalam organisasi tersebut.

“Namun, Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres Nomor 264 Tahun 1962 yang membubarkan dan melarang keberadaan Freemason di Indonesia. Segala yang berbau Freemason seperti Rosikrusian, Rotary Club, Lions Club, dan Bahaisme dilarang,” kata Wenri.

Menyoal simbol Freemason, staf Museum Taman Prasasti Eko Hartoyo, menjelaskan, situs yang sudah berdiri sejak 28 September 1795 itu memang merupakan tempat peristirahatan terakhir tokoh-tokoh penting di Batavia, pada zaman kolonial.

Barisan nisan yang penuh misteri di Museum Taman Prasasti, Tanah Abang I, Jakarta. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

“Dan sejak diresmikan menjadi museum pada 9 Juli 1977, simbol-simbol itu memang sudah ada dan tidak banyak yang tahu maknanya,” kata Eko di Museum Taman Prasasti, Tanah Abang I, Jakarta.

Eko menjelaskan, situs yang sudah berdiri sejak tanggal 28 September 1795, awalnya merupakan tempat pembaringan terakhir khusus orang asing di Batavia (sekarang Jakarta). Baru pada tanggal 9 Juli 1977 diresmikan menjadi Museum Taman Prasasti.

“Orang-orang penting itu di antaranya Dr. W.F. Stutterheim (pakar di bidang kepurbakalaan Indonesia), Dr. J.L Andries Brandes (pakar arkeologi dan sastra Jawa kuno), Olivia Mariamne Raffles (istri pertama Thomas Stamford Raffles), H.F. Roll (pendiri Sekolah Tinggi Dokter Indonesia, Stovia), Andries Victor Michiels (panglima militer Belanda). Namun, kalau untuk Freemason saya tidak terlalu mengetahui,” jelas Eko.

Seperti diketahui, Feemason merupakan organisasi persaudaraan yang penuh misteri, yang berasal dari Eropa pada tahun 1717. Di Indonesia, gerakan tersebut didirikan oleh Jacobus Cornelis Mattheus Radermacher (1741–1783) yang membangun perkumpulan Masonik (anggota Freemason) pertama di Batavia.

Berdasarkan catatan sejarah, JCM Radermacher merupakan putera seorang Grand Master Freemason generasi awal dari Belanda (diduga jejaknya berada di Museum Taman Prasasti).



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH