Berita Indonesia

Ini Sejarah Lengkap Mata Uang RI (Bagian I)

Ini Sejarah Lengkap Mata Uang RI (Bagian I)

Pernyataan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab yang menyebut ada logo palu arit di lembaran uang rupiah menjadi kontroversi di ranah publik.

Sebelumnya, beredar luas ceramah Habib Rizieq yang terang-terangan menyatakan uang baru yang diterbitkan BI tertera logo Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam video yang berdurasi 2 menit lebih itu diketahui disebarkan akun FPI TV, 25 Desember lalu.

Akibat pernyataan kontroversi pimpinan FPI tersebut, sejumlah Ormas melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Perwakilan Jaringan Intelektual Muda Anti Fitnah (JIMAF) Herdiyan Saksono, pihak pelapor, menyatakan Rizieq telah menyebar berita bohong dan palsu yang bermuatan kebencinan.

Menyimak polemik pernyataan Habib Rizieq, Gubernur BI Agus DW Martowardojo, dengan tegas membantah tudingan itu. Ia menjelaskan gambar tersebut merupakan bentuk saling isi (rectoverso) yang mengandung unsur pengaman uang rupiah agar masyarakat mudah mengenali ciri-ciri keaslian uang, sekaligus menghindari pemalsuan.

Sehubungan dengan hal itu, merahputih.com mencoba menghadirkan sejarah awal mula penerbitan uang rupiah dari zaman ke zaman.

Zaman Oeang Repoeblik Indonesia (ORI)

Penggunaan mata uang sebagai alat transaksi sah di Indonesia telah berlangsung sejak sebelum Kemerdekaan. Hanya saja, mata uang tersebut masih dalam penguasaan penjajah Belanda dan Jepang. Baru pada era awal kemerdekaan, pemerintah Indonesia menerbitkan mata uang ORI, meskipun penyebarannya sangat terbatas.

Penerbitan ORI 1

ORI resmi beredar pada 30 Oktober 1946. ORI tampil dalam bentuk uang kertas dengan 8 pecahan, yaitu bernominal 1 sen, 5 sen, 10 sen, 1/2 rupiah, 1 rupiah, 5 rupiah, 10 rupiah, 100 rupiah.
ORI ditandatangani Menteri Keuangan saaat itu A.A Maramis. Pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javasche Bank (Cikal Balan Bank Indonesia) tidak berlaku lagi. ORI pertama dicetak Percetakan Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna dan memakai pengaman serat halus.

ORI 2 (Tahun 1947)

ORI 2 hanya mempunyai 4 pecahan, yaitu 5, 10, 25 dan 100 rupiah. Tiga diantaranya yaitu pecahan 5, 10 dan 100 rupiah mempunyai bentuk yang sama dengan ORI I. Hanya pecahan 25 rupiah saja yang berbeda. Semua pecahan bertanggal Djokjakarta 1 Djanuari 1947 dan ditandatangani oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
Uang-uang seri ini tidak mempunyai pengaman yang baik, hanya kualitas kertas dan rahasia pada kode kontrol nomor seri saja yang membedakan apakah uang ini asli atau palsu.

ORI 3 (Tahun 1947)

Terdiri dari tujuh jenis pecahan, yaitu dari ½ rupiah hingga Rp250. Di era ini ada pecahan langka yaitu seri 100 rupiah Maramis.
Pecahan ini hanya bisa dikalahkan oleh pecahan 600 rupiah di seri ORI IV.

ORI 4 (Tahun 1948)

Seri ini memiliki nominal pecahan yang sangat ganjil, yaitu Rp40, Rp75, Rp100, yang ditandatangani M.Hatta. Rp600, salah satu karya terbaik dan terlangka, sekaligus harga termahal (unissued).

Rupiah Masa Orde Baru

Uang yang pertama diterbitkan: Seri “Sudirman”
Terdiri dari pecahan: Rp1,00, Rp2½,00,Rp5,00, Rp10,00, Rp25,00, Rp50,00, Rp100,00, Rp500,00, Rp1.000,00, Rp5.000,00, dan Rp10.000,00.
Ditandatangaini oleh Gubernur Bank Indonesia Radius Prawiro dan Direktur BI Soeksmono B Martokoesoemo.
Mulai diedarkan: 8 Januari 1968.

Tahun 1975 keluar uang kertas baru lagi dengan nominal:

Rp1.000,00 bergambar Pangeran Diponegoro
Rp5.000,00 dengan gambar Nelayan
Rp10.000,00 bergambar Relief Candi Borobudur (Masing-masing ditandatangai oleh Gubernur BI Rachmat Saleh dan Direktur BI Soeksmono B Martokoesoemo).

Tahun 1992 terbit lagi uang kertas baru dengan nominal:

Rp100,00 dengan gambar Perahu Phinisi
Rp500,00 dengan gambar Orang Utan
Rp1.000,00 dengan gambar Danau Toba
Rp5.000,00 dengan gambar Alat Musik Sasando
Rp10.000,00 dengan gambar Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Rp20.000 dengan gambar Cendrawasih merah.

Tahun 1993 BI kembali mengeluarkan uang baru lagi dengan nominal:

Rp50.000,00 dengan gambar Presiden Soeharto
Pada tahun 1993 dikeluarkan lagi pecahan
Rp50.000,00 dengan gambar Presiden Soeharto
Dikeluarkan juga penerbitan khusus dengan pecahan dan gambar yang sama tetapi terbuat dari bahan palstik polymer dengan pengaman berupa “holografis” Soeharto, bukan tanda air/watermark, seperti yang biasa digunakan.

(Bersambung)

Tags Artikel ini

Related artikel

Tranding Tags

Yuk ngobrol dengan kami