Harmonisasi Orang-orang Tionghoa dan Santri Jawa di Lasem Sie Hwie Djan atau Pak gandor/berkaos merah. (Dok merahputih.com)

"Kalau ada tetangga sedang hajatan, sunatan atau mantenan (pernikahan), kita harus hadir. Kalau kita buruh, pamit sama majikannya. Kalau tidak dikasih izin, kalau majikannya itu orang Tionghoa, wah bisa dikeroyok sendiri sama orang Tionghoa. Karena ndak boleh itu," ungkap Sie Hwie Djan saat berbincang dengan merahputih.com beberapa waktu lalu.

Sie Hwie Djan atau dikenal dengan nama Pak Gandor ini adalah salah seorang sesepuh masyarakat Tionghoa Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Ia juga meriwayatkan, berdasarkan ajaran leluhurnya di Lasem, masyarakat Jawa di daerah tersebut dianggap sebagai saudara tua, yang tidak boleh dilupakan. Untuk itu, dalam segala hal yang berhubungan dengan masyarakat Jawa Lasem, warga Tionghoa peranakan, harus ikut bergotong-royong dan bahu-membahu.

"Yang sering kita sedih itu, kalau pas sripah (ada yang meninggal). Kita suka ndak menangi, karena memang adat dan aturan agama yang harus dijalankan, segera dimakamkan. Apalagi kalau yang sripah itu jauh, kita berangkat dari rumah jam delapan, kadang sampai sana sudah dimakamkan. Ini kita ikut berbelasungkawa," katanya.

Sebagai bentuk penghargaan lain dari warga Tionghoa peranakan terhadap masyarakat Jawa Lasem, di salah satu klenteng di daerah tersebut, juga terdapat patung seorang tokoh Jawa Lasem bernama Raden Panji Margono.

Patung Raden Panji Margono sebagai simbol harmonisasi orang-orang Tionghoa dan masyarakat Jawa Lasem, di salah satu klenteng di Lasem (Dok. merahputih.com)

Patung ini dibuatkan altar seperti tempat persembahyangan. Raden Panji Margono adalah seorang tokoh masyarakat Lasem yang kala itu berjuang bersama-sama dengan Oei Ing Kiat atau Raden Widyaningrat, bupati Lasem beretnis keturunan Tionghoa, pada saat terjadi Perang Kuning tahun 1741 hingga 1750-an.

Peristiwa Perang Kuning berawal dari pembantaian masyarakat Tionghoa di Batavia (Jakarta) oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. Dalam peristiwa itu, warga Tionghoa yang berada di wilayah Batavia banyak yang berlari mencari perlindungan ke Lasem. Masyarakat Lasem pun, kala itu sangat terbuka dan menerima kedatangan orang-orang Tionghoa sisa pembantaian VOC Belanda tersebut.

Dalam peristiwa ini, VOC Belanda pun tak tinggal diam dan memburu orang-orang Tionghoa yang bersembunyi di Lasem. Dari situlah, masyarakat Lasem, baik dari etnis Tionghoa peranakan maupun Jawa, bersatu melawan kebengisan VOC.

Pada saat itu, dari kalangan santri yang dipimpin oleh Kyai Ali Badawi, Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat dan salah seorang pendekar Kung Fu Tan Kee Wie bersatu melawan VOC Belanda.

Peristiwa ini juga yang memperkuat hubungan dan harmonisasi warga Tionghoa pernakan dengan santri dan orang-orang Jawa di Lasem. Jadi tidaklah heran, jika Anda ke Lasem, di balik tembok bangunan orang-orang Tionghoa terdapat puluhan pondok pesantren, yang hidup rukun berdampingan.



Widi Hatmoko

LAINNYA DARI MERAH PUTIH