Hari Pers Nasional, PWI Bentuk Jaringan Wartawan Antihoax Aksi damai Pokja Wartawan Depok dalam memperingati Hari Pers Nasional. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Peredaran berita bohong atau hoax melalui sosial media kian masif sehingga semakin mengkhawatirkan. Masyarakat tak bisa lagi membedakan antara berita benar dan hoax.

Terkait dengan fenomena sosial media dan hoax, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono mengatakan PWI telah membentuk wartawan jaringan antihoax yang disingkat Jawah (dalam bahasa Jawa yang berarti hujan).

"Tapi, jangan disingkat jadi jaringan wartawan Ahok atau sebaliknya jadi Jangan Ahok Yach..," kata Margiono melontarkan candaan di sela Peringatan Hari Pers Nasional 2017 yang dihadiri wartawan merahputih.com Bekti Nugroho di lapangan Polda Maluku, Ambon, Maluku, Kamis (9/2).

Menurut Margiono, sudah saatnya media mainstream (arus utama) bertindak dalam menangkal dan mengantisipasi berita hoax.

"Untuk itu pada kesempatan ini, Kami kemarin telah menghadirkan para pembicara dari berbagai pihak untuk melawan fenomena hoax. Ada para tokoh IT, para wartawan senior dan juga tidak ketinggalan dari unsur Pemerintah. Termasuk Pak Luhut ini yang ditakuti para penyebar hoax," ucap Margiono.

Margiono menambahkan jaringan wartawan antihoax ini nantinya akan membuat sel-sel hingga ke daerah Untuk memerangi hoax dengan berita-berita yang benar dan sesuai fakta.

Sementara itu, Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo mengatakan kebenaran fakta saat ini bisa saja tertutup oleh berita-berita hoax, yang marak bermunculan. Hoax bukan saja memuat kebohongan tapi juga kadang berisi fitnah dan memecah belah masyarakat.

"Masyarakat jadi bingung untuk membedakan mana berita benar dan mana yang salah. Sosmed menjadi arena untuk menjelek-jelekan orang dan sarat kepentingan politik. Untuk itu masyarakat pers harus melawan dengan azas profesionalitas: mengikatkan diri dengan nilai-nilai moral dan etika profesi," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Stanley, panggilan akrab Yoseph Adi Prasetyo, Dewan Pers juga mendorong verifikasi perusahaan media dengan melakukan kerjasama dengan Serikat Pekerja Penerbit Surat Kabar (SPS) untuk melakukan verikasi perusahaan pers sesuai dengan Piagam Palembang tangal 9 Februari 2010.

"Paling tidak perusahaan pers harus meratifikasi empat peraturan Dewan Pers: Kode Etik Jurnalistik, Standar Perusahaan Pers, Standar Perlindungan Profesi Wartawan dan Standar Kompetensi Wartawan. Hingga saat ini dari ribuan perusahaan pers sudah ada 74 perusahaan pers yang telah memenuhi proses verifikasi perusahaan.

Dalam kesempatan itu turut hadir Presiden Joko Widodo bersama sejumlah pejabat negara seperti Ketua MPR Zulkifli Hasan dan beberapa duta besar negara tetangga. Sejumlah tokoh pemilik perusahaan media pun turut hadir seperti Chairul Tanjung, Surya Paloh, dan Harry Tanoesoedibjo.

Sejumlah menteri juga menyertai, di antaranya Menkominfo Rudiantara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dan Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Rangkaian acara HPN 2017 di Kota Ambon diawali dengan beberapa kegiatan antara lain, pembukaan pameran atau expo Hari Pers Nasional 2017 pada 7 Februari 2017, acara Talkshow IKWI, seminar inovasi pelayanan publik, serta konferensi kerja nasional pengurus PWI pusat dan PWI daerah serta diskusi publik HPN.

Selain itu ada kegiatan bakti sosial IKWI, kegiatan menanam bibit mangrove, workshop sekolah Jurnalistik Indonesia, serta acara konvensi nasional media massa terkait peluang dan tantangan dengan pembicara sejumlah menteri dan pemilik perusahaan media.



Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH