Gerbong Sejarah Kota Depok Tugu Selamat Datang di Kota Depok. (Istimewa)

Sebuah kota besar atau kota yang baru mulai berkembang, tentu dibangun atas dasar tiang-tiang sejarah masa lalu yang kuat dan mengakar. Tidak ada satu pun kota berdiri tanpa memiliki cerita masa lampau yang merupakan muruah bagi masyarakat sekitar, termasuk kota Depok, Jawa Barat.

Bicara mengenai sejarah, mungkin sebagian masyarakat masih menganggap kisah masa lalu tak ubahnya dongeng sebelum tidur yang tidak mesti dijadikan pedoman atau tolok ukur untuk kehidupan sekarang ataupun mendatang.

Padahal berdasarkan beberapa literatur yang ada, kota Depok sendiri memiliki nilai-nilai historis, di mana mengidentikkan nama kota tersebut dengan Kota Pendidikan sehingga menjadi sebuah identitas yang terus melekat bahkan hingga saat berita ini diturunkan.

Meski demikian, penting juga untuk menjadi catatan bahwa mencari tahu kebenaran sejarah ibarat mencari jarum dalam sekam. Dan perlu digarisbawah, sejarah itu ada berdasarkan siapa yang berkuasa.

Hal tersebut, sama pula dengan yang terjadi di kota Depok jika dilihat berdasarkan bingkai sejarah dari masa ke masa. Lantas, seperti apakah kota Depok jika diurai melalui gerbong dimensi sejarah?

Untuk yang pertama, kota Depok dilihat dari zaman Kerajaan Pajajaran ketika masa Prabu Surawisesa (1522-1535) yang berpusat di Pakuan, Bogor. Adapun Prabu Surawisesa sendiri ialah anak kandung Sribaduga Maharaja Haji Pakuan Siliwangi atau yang akrab dengan nama Prabu Siliwangi (1482-1521) bersama ibunya yang bernama Kentring Manik Mayang Sunda.

Dalam Babad Surawisesa dijelaskan bahwa ia memiliki seorang istri bernama Dewi Kinawati atau Dewi Kania yang merupakan anak dari penguasa Kerajaan Tanjung Barat, Mental Buana.

“Dimulai dari Prabu Surawisesa lah, cikal bakal nama Depok mulai ada,” kata salah seorang budayawan Sunda, Bambang Sumantri (42) kepada Koran Depok di rumahnya, Jalan Cibeureum Tengah, Desa Sinarsari, Kecamatan Dramaga, Bogor, beberapa waktu yang lalu.

Pada masa itu, jelas Sumantri, Kerajaan Pajajaran membuat sebuah tempat pelatihan ilmu kedigdayaan (ilmu kesaktian, RED) dengan sebutan Padepokan. “Di tanah yang sekarang bernama Depok, semua pasukan Kerajaan Pajajaran ditempa dengan ilmu kesaktian untuk menjaga pertahanan kerajaan itu sendiri dari pelbagai serangan,” jelas dia.

Bahkan, Sumantri mendaraskan dalam Carita Parahyangan dijelaskan bahwa selama hidupnya, Prabu Surawisesa dikenal sebagai kasuran (perwira, RED), kadiran (perkasa, RED), dan kuwanen (pemberani, RED), yang konon selama 13 tahun memimpin, dirinya telah melakukan 15 kali pertempuran.

Adapun motif peperangan tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran Raja Demak ketiga, Sultan Trenggana (1505-1546) dalam urusan perdagangan terkait pelabuhan Sunda Kalapa yang berada dalam kekuasaan Portugis dan Kerajaan Pajajaran.

“Kekhawatiran Sultan Trenggana mulai muncul ketika utusan dari Portugis, Hendrik de Leme menghadiri penobatan Prabu Surawisesa di Pakuan. Dalam waktu yang sama, antara Portugis dan Kerajaan Pajajaran membuat perjanjian perdagangan yang melibatkan pelabuhan Sunda Kalapa,” pungkas Sumantri.

Dari itulah, tambah Sumantri, pemantik peperangan sudah mulai ada. “Karena itu pula, Prabu Surawisesa akhirnya mendirikan tempat pelatihan yang dinamakan Padepokan. Dari nama itulah, Depok ada,” tambah dia.

Selain dari nama Padepokan Sumantri juga mengatakan berdasarkan cerita dari turun-temurun, Depok diduga merupakan nama salah satu jurus silat yang dikembangkan sejak zaman itu. “Jadi, belajar beladiri dengan jongkok. Ilmu ini khusus untuk pertarungan jarak dekat. Meski tidak bisa dibenarkan 100 persen, tapi kisah tersebut bisa menjadi cerita lain di balik nama Depok,” kata dia.

Ilustrasi ilmu beladiri silat. (Istimewa)

Ya, seperti itulah sejarah Kota Depok jika ditarik sejak zaman Kerajaan Pajajaran era Prabu Surawisesa, di mana tanah ini merupakan wahana pendidikan bagi para pasukan Pajajaran dalam menempa ilmu kesaktian.

Bagaimana menurut Anda?


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

YOU MAY ALSO LIKE