Dongeng Malin Kundang: Petuah Rakyat Minang yang Mulai Meredup Malin Kundang (MP/Arie P)

Gelap matanya yang silau oleh gemerlap tahta dan duniawi, membuat Malin Kundang menjadi manusia yang terkutuk. Sepanjang masa ia hanya menjadi sebuah batu yang dipertontonkan untuk seluruh pewaris jagat.

Ini adalah legenda dari Tanah Minang, Sumatera Barat; yang juga sebagai petuah bahwa seorang ibu adalah sang pendoa yang mujarab, lebih sakti dari seribu dukun, lebih ampuh dari ribuan larik mantra, dan lebih hebat dari raja-raja di dunia. Namun sayang, dongen petuah rakyat Minang yang melegenda ini sudah mulai meredup.

Kisah ini bermula ketika suatu hari Malin Kundang bersama ibunya ditinggal melaut oleh ayahnya. Namun, sejak meminta izin melaut untuk mencari nafkah, Ayah Malin tidak kunjung pulang. Hingga akhirnya, sang ibu harus berusaha mencari nafkah sendiri untuk menghidupi anak semata wayangnya.

Malin merupakan anak yang pandai, meski ia sedikit nakal. Ia senang mengejar ayam dan memukul ayam dengan sapu. Hingga pada suatu ketika ia jatuh ketika mengejar ayam dan terdapat luka di lengannya yang tidak bisa hilang.

Ketika beranjak dewasa, Malin merasa sedih melihat ibuya bekerja keras sendirian. Ia merasa kasihan dan akhirnya memutuskan untuk mencari nafkah merantau ke negeri seberang dan berharap pulang nanti ke kampung halamannya ia bisa menjadi orang kaya raya.

Setelah meminta izin dari ibunya, kemudian Malin berangkat mengikuti seorang nakhoda kapal untuk pergi berlayar. Awalnya sang ibu tidak setuju. Namun kahirnya mengizinkan Malin untuk pergi merantau, meski dengan berat hati. Sang ibu mengantar kepergian Malin dengan linangan air mata. Ibu berpesan agar Malin tidak melupakannya apabila ia sudah menjadi orang kaya raya.

Selama berlayar di lautan ia banyak belajar serta mendapatkan pengalaman. Di tengah perjalanan, kapal yang ditumpangi Malin dirampok sekawanan bajak laut dan awak kapal lain dibunuh.

Beruntungnya Malin bisa selamat karena ia bersembunyi di ruang kecil yang tertutup kayu. Malin terkatung-katung di tengah lautan hingga akhirnya ia terdampar di sebuah pantai. Malin berjalan ke dalam pulau tersebut dan menemukan sebuah desa di pulau tersebut.

Lalu Malin pun meminta pertolongan dari warga desa sekitar. Setelah mendapat pertolongan, akhirnya Malin tinggal di desa yang subur itu. Di sana Malin bekerja dengan giat hingga ia menjadi seseorang yang kaya raya. Karena ia sudah menjadi orang kaya, Malin pun menikahi seorang gadis di desa tersebut.

Lalu cerita tentang kesuksesan dan pernikahan Malin pun terdengar oleh ibunya di kampung halaman. Sang ibu merasa bahagia dan bersyukur karena anaknya sudah sukses. Ibu Malin pun dengan setia menunggu kepulangan anaknya di dermaga setiap hari. Ia berharap anaknya akan pulang ke kampong halaman dan bertemu dengannya.


Tags Artikel Ini

Selvi Purwanti

YOU MAY ALSO LIKE