Delution Galang Dukungan Raih Penghargaan Arsitektur Kelas Dunia Splow House, karya arsitektur Delution. (Foto Facebook Muhammad Egha)

Sekelompok anak muda Indonesia menorehkan prestasi membanggakan. Delution sebagai konsultan yang bergerak di bidang perencanaan arsitektur dan desain interior, menjadi Finalis Architizer A+ Award 2017, di New York, Amerika Serikat.

Delution menjadi satu-satunya Finalis asal Indonesia yang masuk lima besar untuk kategori Architecture+Living Small melalui karya Splow House, bersaing dengan arsitek dari Amerika Serikat, Tiongkok, dan Estonia.

Muhammad Egha (kedua kiri), Sunjaya Askaria, Hezby Ryandi, dan Fahmy Desrizal dari Delution. (Foto Ist)

CEO Delution, Muhammad Egha mengatakan Delution mengajukan Splow House untuk dua kategori di Architizer A+ Award 2017 yaitu rumah tinggal dengan luas kurang dari 1.000 meter dan arsitektur tempat tinggal kecil (Architecture+Living Small). Ternyata, Splow House terpilih menjadi finalis untuk kategori kedua.

"Nantinya akan dipilih dua pemenang versi juri dan pilihan masyarakat (public vote). Kita bisa menang lewat public vote karena setelah gencar disosialisasikan dukungan kepada Delution melonjak. Saat ini Delution memimpin dengan 43 persen," kata Egha di ujung telepon, Sabtu (18/3).

Dukungan masyarakat kepada Delution dapat diberikan dengan masuk ke laman https://vote.architizer.com/PublicVoting#/winners/2017/plus/concepts/architecture-living-small, lalu pilih Splow House. di mana Vote akan terus bergulir hingga ditutup pada tanggal 30 Maret 2017 waktu Amerika Serikat. Nama pemenang akan diumumkan pada 11 April 2017.

"Kalau bisa terus bertahan di puncak sampai dengan 30 Maret maka Delution keluar sebagai pemenang," ujar Egha.

Splow House (Facebook Muhammad Egha)

5th Architizer A+Awards sendiri adalah suatu penghargaan Internasional yang lebih dari sekedar melibatkan Komunitas Arsitektur sebagai pesertanya, namun juga melibatkan fashion, penerbitan, desain produk, pengembangan real estate, dan teknologi dari seluruh dunia. program penghargaan ini sendiri berfungsi untuk mengingatkan dunia betapa pentingnya arsitektur. Arsitektur adalah bentuk setiap ruang dan setiap tempat di mana orang menghabiskan hidup mereka dalam kegiatan apapun.

Rumah Tumbuh

Splow House berdiri di atas lahan seluas 90 m2 dan luas bangunan 120 m2 di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Egha menjelaskan Splow House mengusung konsep rumah tumbuh. Sang pemilik rumah ingin membangun rumah tapi budget mereka terbatas.

"Splow House singkatan dari Split and Grow House. Jadi, ini sebenarnya adalah rumah tumbuh. Biasanya rumah bertingkat terdiri dari lantai 1 lalu naik ke lantai 2. Untuk Splow House, dari lantai 1 tidak langsung ke lantai 2, tapi ada lantai 1/2 atau mezzanine. Mezzanine ini dimanfaatkan juga sebagai ruangan," jelas Egha panjang lebar.

Splow House (Facebook Muhammad Egha)

Splow House memiliki Big Void, yaitu ruangan terbuka sebagai ruangan utama di bagian tengah rumah. Big Void dibuat tanpa sekat dan atap langit-langit tinggi.

Menurut Egha dengan Big Void ini keuntungannya, sirkulasi udara lebih baik, sinar matahari yang masuk ke dalam lebih banyak, dan udara lebih sejuk karena semakin tinggi atap langit-langit rumah membuat ruangan semakin ingin.



Luhung Sapto

YOU MAY ALSO LIKE