Datangi Mabes Polri, FAI-uK Minta Ormas FPI Segera Dibubarkan Masa yang tergabung dalam FAI-uK saat mendatangi Mabes Polri. (MP/Fadly)

Datangi Mabes Polri, Senin (23/1), masyarakat yang tergabung dalam Forum Aspirasi Indonesia untuk Kebangsaan (FAI-uK) yang berada di Jakarta, meminta agar organisasai masa (ormas) Frons Pembela Islam (FPI) segera dibubarkan. Forum yang terdiri dari elemen masyarakat diaspora ini merupakan perwakilan masyarakat dari Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, NTT, Sumatera, Jawa, Bali, NTB dan Tionghoa.

Menurut Ketua FAI-uK Petrus Salestinus, mencermati perkembangan tatanan masyarakat belakangan ini, telah terjadi sikap intoleran oleh ormas FPI dan sejenisnya. Untuk itu, kata Petrus, pihaknya mengambil sikap untuk mendukung Polri menindak pelaku intoleran dan menuntut pembubaran ormas tersebut.

"Terkait dengan situasi Jakarta yang mencekam, termasuk di wilayah, kami memberikan dukungan kepada Polri yang saat ini memikul beban berat menghadapi FPI. Langkah-langakah FPI selalu menimbulkan resistensi luar biasa, sehingga kalau tidak dihadapi dengan hati-hati bisa menimbulkan konflik horizontal," kata Ketua FAI-uK Petrus Salestinus kepada awak media di Mabes Polri.

Organisasi yang juga mengklaim membawa pesan dari masing-masing daerahnya ini, mengaku siap menjadi mitra Polri untuk menjaga kebhinekaan dan keutuhan NKRI. "Nah, kita dalam kaitan dengan hal ingin menjadi mitra. Apa yang kami rekam di daerah cepat kami laporkan kepada Polri, biar cepat ada penindakan. Lebih baik langsung dari masyarakat agar tidak terjadi salah persepsi dan manipulasi," imbuhnya.

Perlu diketahui, organisasi FAI-uK mendatangi Mabes Polri dalam kapasitas sebagai elemen masyarakat yang turut resah terhadap sikap intoleran ormas FPI dan sejenisnya. Masa FAI-uK yang datang ke Mabes Polri mengenakan pakaian adat masing-masing daerah ini, juga menuntut agar Polri segera menangkap oknum intoleran yang merusak kebhinekaan Indonesia.

"Tuntutan kami pembubaran dan tindak tegas kepada pelaku intoleran, karena sering mengganggu kenyamanan aktifitas kami sebagai minoritas," tegas Petrus.

Kredit : fadhli


Widi Hatmoko

LAINNYA DARI MERAH PUTIH