Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Darah Muda dalam Teater Rakyat Mendu dari Pontianak

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Rabu, 16 September 2015
Darah Muda dalam Teater Rakyat Mendu dari Pontianak

(Foto: kebudayaanindonesia.net)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Budaya - Kebudayaan tradisional mengajarkan masyarakatnya untuk selalu hidup sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Kesenian teater rakyat atau pertunjukan drama panggung tradisonal salah satunya, para tokoh membawakan cerita tentang banyak hal bagaimana seseorang menjalani hidup dan mengenali mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan. 

Di Pontianak, ada teater rakyat bernama "mendu". Ia lahir di Dusun Malakian, suatu dusun kecil yang terletak di Desa Sengkubang, Kecamatan Pontianak Hilir, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat.

Kesenian tradisional mendu sudah ada sejak 1871. Pertama kali dirintis oleh tiga pemuda dari Mempawah yaitu Ali Kapot, Amat Anta dan Achmad. Ali Kapot dari Dusun Malakian sangat gigih mempertahankan seni pertunjukkan tersebut, ia kemudian mewariskan teater mendu kepada anak-anaknya, hingga mendu dapat disaksikan sampai sekarang.

"Pertunjukan mendu yang lazimnya meramaikan hajatan perkawinan dan sunatan dilakukan malam hari, sehingga memerlukan, dahulu petromak, yang cukup baik. Untuk menyaksikan pementasan ini, para penonton bisa duduk maupun berdiri mengitari panggung. Para pemain mendu mulai berakting saat layar yang menutupi pentas dibuka. Secara umum kesenian tradisional ini menampilkan nyanyian diiringi alat musik ketabuhan sederhana, tarian dan gerakan silat," demikian dilansir situs web resmi Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Semangat pemuda perintis teater rakyat mendu tidak diragukan, pertunjukkan panggung mereka merambah hingga tampil di luar negeri, ke Brunai dan wilayah Kalimantan Utara. Di daerah asalnya, teater mendu lebih-lebih digemari masyarakat.

Kegemaran anak-anak Pontianak terhadap teater mendu menular. Anak-anak muda berlatih keras untuk menguasai teater mendu dan berusaha mendapatkan peran sebagai raja, pahlawan, atau pun pendekar sang tokoh utama. Peran-peran itu cukup prestisius bagi anak-anak muda. Semua orang berlomba-lomba membuktikan diri layak bermain di panggung, dan dipilih menjadi tokoh yang berperan penting dalam cerita.

"Peran-peran ini menjadi kebanggaan tersendiri, terlebih jika para pemain mendu tampil dengan pantun yang memesona, seketika ia (pemain) akan menjadi buah bibir bagi gadis remaja. Gambaran mendu tempo dulu memperlihatkan bahwa kesenian tradisional ini tidak hanya berjaya di kampung asalnya, tetapi undangan bagi kelompok kesenian ini mengalir deras hingga ke Mengkacak, Tanjung Secapah dan daerah Antibar."

Mendu sejatinya kesenian rakyat sejenis teater tradisional. Ia berisi lakon-lakon seperti dongeng, legenda, hikayat 1001 malam dari Timur Tengah. Salah satu bagian yang khas dalam pertunjukan mendu adalah berladon, yaitu nyanyian yang berisi pantun-pantun yang disampaikan dari satu pemain ke pemain lain saling berbalasan. Pantun dilagukan sambil menari menjadi bagian menarik dengan khas kelucuan atau sindiran-sindiran masyarakat setempat.

Kekuatan teater mendu juga terletak pada dialog yang selalu disisipi nasihat dan pendidikan akhlak (etika). Isi cerita membawa nilai-nilai kejahatan dan kebaikan. Teater mendu berfungsi sebagai sarana edukasi sekaligus hiburan rakyat. Dapat dimengerti, mengapa anak-anak muda berlomba menjadi tokoh yang membawakan nilai kebaikan di hadapan penonton. Kebaikan untuk daerah kelahiran mereka.

 

Baca Juga:

Parade Budaya Sail Tomini 2015 di Sulawesi Penuh Warna-Warni

Ragam Karnaval Budaya di Nusantara

Teater Topeng Blantek Betawi Jarang Dikenal Lagi

Menengok Segala Hal tentang Batak di Museum TB Silalahi

 

#Museum Seni Dan Budaya #Teater #Budaya
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Fun
Akhiri Penantian 35 Tahun, Teater Koma Hidupkan Kembali Lakon 'Rumah Sakit Jiwa'
Teater Koma kembali menghadirkan lakon klasik Rumah Sakit Jiwa karya N. Riantiarno setelah 35 tahun. Pertunjukan digelar 30 Juli–2 Agustus 2026 di TIM, Jakarta.
Wisnu Cipto - Sabtu, 11 Juli 2026
Akhiri Penantian 35 Tahun, Teater Koma Hidupkan Kembali Lakon 'Rumah Sakit Jiwa'
Travel
Aktivitas Menarik saat Liburan ke Candi Prambanan, Pastikan Nonton Sendratari 'Ramayana'
Beragam aktivitas menarik dapat dinikmati wisatawan dari berbagai kalangan di Candi Prambanan.
Dwi Astarini - Jumat, 10 Juli 2026
Aktivitas Menarik saat Liburan ke Candi Prambanan, Pastikan Nonton Sendratari 'Ramayana'
Travel
Kisah Relief Candi Prambanan, Media Pengajaran Hindu di Masanya
Setiap panel relief menghadirkan cerita yang sarat akan nilai moral, keagamaan, hingga kebudayaan.
Dwi Astarini - Jumat, 10 Juli 2026
Kisah Relief Candi Prambanan, Media Pengajaran Hindu di Masanya
Tradisi
13 Juli Resmi Jadi Hari Kepercayaan kepada Tuhan YME Nasional, Awalnya dari Wongsonegoro
Pemerintah menetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME melalui SK Menteri Kebudayaan No. 135/2026.
Wisnu Cipto - Selasa, 07 Juli 2026
13 Juli Resmi Jadi Hari Kepercayaan kepada Tuhan YME Nasional, Awalnya dari Wongsonegoro
Lifestyle
Senja Teduh Pelita Penggabungan Musik, Teater, dan Narasi Kuat Membuka Babak Baru MALIQ & D'Essentials.
Sejumlah lagu seperti "Senja Teduh Pelita", "Himalaya", "Aurora", "Jalan Pulang", hingga materi dari album terbaru Begini Begitu diinterpretasikan ulang untuk mengiringi perjalanan emosional para karakter
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 05 Juli 2026
Senja Teduh Pelita Penggabungan Musik, Teater, dan Narasi Kuat Membuka Babak Baru MALIQ & D'Essentials.
Berita Foto
Jelang Pementasan Teater Musikal Bertajuk Senja Teduh Pelita, Adaptasi Lagu MALIQ & D’Essentials
Para pemeran mementaskan teater musikal bertajuk "Senja Teduh Pelita' adaptasi lagu MALIQ and D'Essentials dalam konfereni pers di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 03 Juni 2026
Jelang Pementasan Teater Musikal Bertajuk Senja Teduh Pelita, Adaptasi Lagu MALIQ & D’Essentials
ShowBiz
Drama Musikal 'Mar' Comeback, Hadirkan Panggung 360 Derajat Visualisasi Ciamik Bandung Lautan Api
Pertunjukan drama musikal Mar kembali lagi ke panggung pertunjukan di Ciputra Artpreneur, Jakarta Pusat, pada 15-17 Mei 2026.
Dwi Astarini - Sabtu, 16 Mei 2026
Drama Musikal 'Mar' Comeback, Hadirkan Panggung 360 Derajat Visualisasi Ciamik Bandung Lautan Api
Indonesia
Hadiri Gelar Budaya Lebaran Betawi di Lapangan Banteng 10-12 April 2026
Lebaran Betawi 2026 digelar di Lapangan Banteng juga mempertimbangkan aspek historis lokasi.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 05 April 2026
Hadiri Gelar Budaya Lebaran Betawi di Lapangan Banteng 10-12 April 2026
Fun
Ireland’s Eye 2026 Hadir di Jakarta, Eksplorasi Lanskap dan Budaya Irlandia
Ireland’s Eye 2026 digelar di Jakarta, menampilkan seni kontemporer Irlandia dengan tema lanskap, budaya, dan memori lintas generasi.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 03 April 2026
Ireland’s Eye 2026 Hadir di Jakarta, Eksplorasi Lanskap dan Budaya Irlandia
Indonesia
Cerita Ketika 15 Ribu Jenang Gratis Dibagikan Saat Harmoni HUT ke-281 Solo
Festival Jenang Solo ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus doa keselamatan bagi masyarakat.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 18 Februari 2026
Cerita Ketika 15 Ribu Jenang Gratis Dibagikan Saat Harmoni HUT ke-281 Solo
Bagikan