Bagi-bagi Sembako Sasar Pemilih Pragmatis (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Strategi klasik bagi-bagi sembako jadi salah satu pilihan tim pemenangan paslon guna merebut suara di pilkada. Strategi ini masih laris manis jika saja disebar di kantong-kantong masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan alias kaum miskin kota.

Menyikapi hal itu, peneliti Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Sa'id Salahuddin mengatakan, biasanya strategi bagi sembako menyasar masyarakat yang tidak menitikberatkan kepada program.

"Bagi sembako biasanya menyasar masyarakat kelas bawah, yang di garis kemiskinan. Nah, ketika ada bagi sembako itu karena dia (pemberi) tahu program yang ditawarkan belum dapat dicerna kelompok ini. Yang masih mengutamakan yang real bukan janji. Ketika diterima beras dia bisa masak. Itu alasannya," urai Sa'id kepada merahputih.com, Selasa (18/4).

Menurutnya, perlu dibedakan antara segmen kelas menengah ke bawah dengan segmen menengah ke atas. Ada kecenderungan segmen tersebut berbeda dalam sikap politiknya.

"Segmen kelas menengah ke atas cenderung melihat program paslon, sebenarnya kebanyakan terdidik, dan mengikuti isu di media. Sementara segmen yang satu ini memiliki kecenderungan pragmatis, bukan janji," terangnya.

Efeknya, kata Sa'id, paslon yang tebar janji berimplikasi orang akan memilih programnya yang realistis dan berpihak kepada rakyat.

"Tapi pada kelompok ini (menengah ke bawah) belum tentu. Bisa jadi yang terima sembako dia coblos yang lain. Karena mereka berpikir pengalaman sebelumnya. 'Dulu saya ikut dia sampai sekarang masih miskin-miskin juga. Kalau ada program sembako murah saya ambil saja soal memilih urusan saya,'" imbuhnya. (Fdi)

Baca juga berita lain tentang Pilgub DKI Jakarta 2017 dalam artikel: Peneliti Median: Hasil Survei Tak Pengaruhi Pemilih Pilgub DKI



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH