Avani Eco, Bahan Nabati Bisa Jadi Sikat Gigi Kantong bioplastik, salah satu produksi Avani. Saking aman dan ramah lingkungannya, larutan plastik ini bisa diminum. (Foto MP/Irene Gianov)

Tahukah Sahabat Merahputih bahwa Indonesia merupakan negara kontributor sampah kedua terbesar di Indonesia? Jika 250 juta penduduk Indonesia membuang sebuah sedotan saja, panjang sampahnya bisa mencapai 60.000 km/harinya dan bisa mengelilingi 1,5 kali garis khatulistiwa.

Nama Avani Eco mungkin lebih banyak dikenal di telinga orang luar, padahal Avani Eco merupakan perusahaan bioplastik yang berpusat di Bali, Indonesia. Bioplastik merupakan polimer yang secara alami dapat dengan mudah terdegradasi, baik oleh mikroorganisme maupun cuaca. Avani Eco sudah memproduksi 76 jenis bioplastik, mulai dari kantong, gelas kopi, tempat makan, sedotan, sampai produk inovasi terbarunya, sikat gigi, yang baru saja selesai diproduksi dan belum dipasarkan.

Dengan hashtag #iamnotplastic, ia memproduksi barang-barangnya dari bahan ramah lingkungan yang bisa diperbaharui. Bahan dasarnya adalah sari pati, minyak, dan beberapa bahan nabati lainnya. Misalnya saja seperti pati singkong, jagung, ampas tebu, bahkan sekam padi.

Ide Avani muncul dari rasa frustrasi Kevin Kumala terhadap Bali, tempatnya surfing dan diving, yang sudah penuh sampah kala itu. (Foto MP/Irene Gianov)

"Avani adalah satu-satunya di dunia yang menawarkan produk ramah lingkungan dari A sampai Z, bioplastik, wadah makanan, coffee cup, sedotan, apapun itu. Kami menawarkan rangkaian produk menggantikan semua disposable plastic untuk ciptakan planet yang lebih hijau lagi," Kevin Kumala, selaku inisiator Avani Eco, menjelaskan.

Fokus Avani Eco adalah business to business (B2B), jadi 99% penjualannya ke pelaku usaha, tidak dijual langsung ke konsumen. Karena menurutnya, pelaku usaha bisa menjangkau lebih banyak orang dan menyebarkan 'kampanye' yang sedang ia jalankan. Meskipun begitu, pembelian satuan masih bisa dilakukan melalui website Avani.

Ada satu quote yang selalu Kevin Kumala pegang, "We live on earth not because we inherit it from our ancestors. But rather our live on earth is that we are borrowing it from future generation." Jadi, hidup kita di dunia ini bukan dari warisan nenek moyang, melainkan hanya meminjam dari generasi penerus kita. Lalu, apakah yang akan kita tinggalkan untuk generasi penerus?

Baca juga artikel profil lainnya di Ve Handojo, Dari Sinetron Hingga Adaptasi Novel.



Irene Gianov

LAINNYA DARI MERAH PUTIH