Atreyu Moniaga: Seniman Harus Berani Terima Kritik Atreyu Moniaga (Foto: Atreyu Moniaga)

Sebagai seorang dosen sekaligus seniman muda yang telah menghasilkan banyak karya ilustrasi dan fotografi, Atreyu Moniaga juga ingin memberikan kontribusinya kepada seniman muda lainnya. Karena itulah ia kini menjalankan "Atreyu Moniaga Project" (AMP) bersama Ve Handojo dan seorang partnernya, Janeeve. Atreyu Moniaga Project ini merupakan wadah inkubasi dan pengembangan seniman-seniman muda di bidang ilustrasi dan fotografi. Proyeknya tersebut ia kerjakan secara cuma-cuma dan terbuka bagi semua seniman.

Atreyu Moniaga, atau yang akrab disapa Atre, mulai menekuni dengan serius hobi dan kecintaannya di dunia seni pada usia 18 tahun. Ia memandang seni sebagai sesuatu yang bisa didefinisikan sesuai kebutuhan dan kenyamanan seseorang, tidak ada aturan bakunya. Respons masyarakat terhadap karya seni pun tidak selamanya positif, tapi selama direspons, berarti itu baik.

"We sound loud enough so people react to it (kita 'bersuara' cukup kencang sehingga orang-orang bereaksi). Karena kalau enggak, tidak akan ada dampaknya," ujar Atre saat ditemui di pameran Mixed Feelings 02, salah satu karya dalam Atreyu Moniaga Project.

Atre saat pembukaan pameran Mixed Feelings 02 di Jakarta Selatan (Foto MP/Irene Gianov)

Uniknya, inspirasi Atre dalam berkarya adalah kesedihan, sakit hati, dan hal-hal negatif lainnya. Itulah alasan mengapa saat-saat ini ia belum kembali berkarya—karena sedang berada pada saat terbahagianya. Namun ia mencoba untuk tidak tinggal diam dengan menggali kebahagiaan sebagai inti berkaryanya kali ini.

Seniman dengan aliran freestyle yang juga penggemar berat Jewel (penyanyi Amerika) ini memaparkan karya favoritnya sendiri adalah "Time Betrays Us". Untuk satu karya ilustrasi itu, ia membutuhkan waktu delapan bulan. Karena menceritakan masalah berat dalam hidupnya, setiap kali mulai mewarnai ia mengaku mengalami emotional breakdown.

"Knowing your ability, itu penting banget. Karena dengan mengetahui kapasitasmu, kamu mengetahui di mana kamu berdiri, dan kalau kamu tahu di mana kamu berdiri, kamu akan tahu apa yang harus kamu tingkatkan. Lalu, jangan malu untuk bertanya, karena menurutku orang seringkali malu bertanya dengan alasan 'gimana kalau pertanyaan gue bodoh'," Atre berpesan bagi semua seniman.

Atre melanjutkan, "Kalau kamu punya pertanyaan berarti kan kamu tidak bodoh. Jadi ya sudah, tanya saja. Kumpulkan sumber sebanyak-banyaknya, lalu coba, misalnya punya peer group untuk ngomongin. Bicara dengan orang-orang yang cukup bisa kamu percaya opininya dan orang-orang yang berani untuk mengkritisi kamu, menurutku itu penting. Karena banyak orang cuma senang main sama orang-orang yang enggak akan mengkritik mereka. Bahaya kalau kamu hanya dengar apa yang kamu mau."

Benar kata Atre, dari kritik, kita bisa mengerti apa yang perlu kita perbaiki dan tingkatkan. Kita pun dapat melatih mental kita lebih kuat dan karakter kita tetap rendah hati. Hanya saja, ingat, jika Anda memberikan kritik, berikanlah kritik yang ditujukan untuk membangun, bukan menjatuhkan.

Baca juga artikel terkait: Ve Handojo: Indonesia Butuh Manajemen Seni.



Irene Gianov

LAINNYA DARI MERAH PUTIH