Asal Muasal Museum Zoologi Papan penunjuk Museum Zoologi, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

MerahPutih Tradisi - Sampurasun Sobat Indonesiana. Mungkin ketika mendengar nama Kota Bogor yang terbersit di hati kalian adalah sebuah kota yang penuh dengan angkutan umum, beberapa sopir angkot yang terkadang menyebalkan, kemacetan, kota segudang kuliner, dan panorama alamnya yang memesona.

Namun, tahukah kalian di antara semuanya, di tempat yang berjuluk Kota Hujan itu memiliki segambreng museum yang konon juga sarat akan nilai historis tinggi, salah satunya adalah Museum Zoologi yang berada di Jalan Ir H Juanda, Bogor, Jawa Barat.

Bangunan Museum Zoologi, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Bangunan Museum Zoologi, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Menurut pengelola museum, M. H. Sinaga, tercatat dalam sejarah mengenai perkembangannya di setiap zaman telah mengalami 11 kali pergantian nama dan dapat dikelompokkan menjadi 3 periode. “Pertama pada periode awal (1984 – 1901), periode pancaroba (1901 – 1986), dan periode pemekaran (1987 – sekarang),” tuturnya kepada merahputih.com saat menyambangi ruang kerjanya, Selasa (3/1).

Sebelum menjadi sebuah museum, M.H. Sinaga menjelaskan bahwa awalnya merupakan laboratorium zoologi dengan nama Landbouw Zoologisch Laboratorium yang didirikan pada tahun 1984 oleh ahli botani berkebangsaan Jerman yang bernama J.C. Koningsberger. “Tujuan laboratorium awal didirikan sebagai sarana penelitian yang berkaitan dengan pertanian dan zoologi,” jelasnya.

Dan pada saat itu pula (1894 – 1918), J.C. Koningsberger untuk pertama kali menjadi pemimpin Landbouw Zoologisch Laboratorium dengan luas 402 m2. Dan menariknya, sekira tahun 1906 nama tersebut diubah menjadi Zoologisch Museum and Wekplaats dan 4 tahun kemudian diubah kembali menjadi Zoologisch Museum en Laboratorium.

Kehadiran tempat itu, kata Sinaga, tak ayal menjadi pusat perhatian masyarakat luas guna mendapatkan informasi pelbagai macam tentang dunia hewan. “Selama ia menjabat sebagai pemimpin, Koningsberger hanya dibantu oleh seorang konservator, P.A Ouwens. Ia bertugas untuk mengumpulkan, menata, mempelajari, dan menyebarkan informasi koleksi yang dimiliki Zoologisch Museum en Laboratorium,” kata Sinaga.

Waktu terus berganti, umur Koningsberger dan Ouwens pun semakin tua, yang akhirnya memutuskan Koningsberger untuk pergi ke Belanda pada tahun 1919. Setelah mereka berdua pergi, kemudian ditunjuklah pakar zoologi lainnya untuk mengurus museum.

“Untuk menggantikan mereka, kemudian ditunjuklah K.W Dammerman (1919 – 1939). Selain merupakan pakar zoologi, ternyata Dammerman juga sangat tertarik pada perkembangan ilmiah serta membina beberapa koleksi fauna yang ada. Saat ia memimpin, jumlah tenaga pun mulai diperbanyak agar perawatan koleksi semakin terjaga, juga untuk menarik perhatian yang lebih besar,” pungkas Sinaga.

Setelah itu, Sinaga juga memaparkan bahwa tampuk kepemimpinan museum pun mulai kembali diganti oleh seorang pakar serangga, M.A Lieftinck (1939 – 1954).

Pada masa inilah, Sinaga menambahkan, keberadaan museum memasuki masa yang tidak stabil. Semua kegiatan yang ada di museum tidak berkembang dikarenakan arus pergolakan politik yang besar (pada masa pendudukan Jepang). “Dan di antara masa itu, museum sempat dipimpin oleh T. Nakai dan diubah menjadi Dabutsu Hakobutsukan. Dan setelah Perang Dunia II berakhir pada tahun 1944, Lieftinck kembali mengambil alih pengelolaan museum. Sejak tahun 1945 sampai 1947, nama Zoologisch Museum en Laboratorium dihidupkan lagi dan pada tahun 1947 diganti dengan nama Museum Zoologicum Bogoriense,” tambah Sinaga.

Tidak berhenti di situ, sejak tahun 1954 sampai 1960, kepemimpinan Lieftinck pun kemudian digantikan oleh seorang kolektor zoologi asal Jerman, AMR. Wegner. “Pada tahun 1955, museum kembali diganti nama menjadi Lembaga Museum Zoologicum Bogoriense. Dan sayangnya, pada masa kepemimpinan Wegner, museum tidak juga berkembang yang akhirnya diserahkan oleh orang pribumi, S. Kadarsan (1962 – 1971).

“Nama Lembaga Museum Zoologicum Bogoriense usianya juga tidak panjang, hanya sampai tahun 1962. Sejak kepemimpinan dipegang oleh S. Kadarsan, namanya diubah kembali menjadi Museum Zoologicum Bogoriense,” paparnya.

Lorong pintu masuk Museum Zoologi. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

“Pada tahun 1977 sampai 1986, museum dipimpin oleh Soehartono Adisoemarto. Dan pada tahun 1986 sampai 1994, museum dipimpin oleh Mohammad Amir. Pada masa beliau, namanya diubah menjadi Museum Zoologi yang berada di bawah naungan Pusat Penelitian Biologi (LIPI),” imbuhnya.

Dan sebagai tambahan informasi, tempat koleksi museum ini memiliki 24 ruangan koleksi dan baru ditempati pada 1997, dengan pembangunan yang didanai dari dana hibah Bank Dunia dan Jepang.



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH