Angeun Lada Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Angeun lada. (MP/Sucitra)

Angeun lada adalah satu dari sekian banyak kuliner khas masyarakat Banten. Hidangan yang satu ini merupakan hidangan yang berakar dari masyarakat Sunda di Banten yang tersebar di daerah Serang bagian selatan, Pandeglang dan Lebak.

Angeun lada menjadi hidangan wajib pada perayaan-perayaan penting dan hari besar, baik saat Lebaran maupun saat acara keluarga. Angen berarti sayur, lada berarti pedas. Bahan utamanya adalah daging sapi bagian babat yang diracik dengan bumbu-bumbu seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan kencur.

Rasa khasnya berasal dari daun walang yang membuat masakan beraroma kuat. Daun walang dalam bahasa ilmiahnya adalah achasma walang (blum) val, jenis tumbuhan dengan tinggi sekira 2 meter. Walang dalam bahasa masyarakat Banten berarti serangga, ada serangga beraroma kuat yang disebut dengan walang sangit. Karena beraroma kuat itulah daun tersebut disebut daun walang.

Selain dipakai sebagai campuran masakan, tumbuhan walang yang banyak mengandung minyak atsiri ini oleh masyarakat Baduy biasa dipakai sebagai pengusir hama padi dengan cara membakarnya di saung huma (gubug ladang).

Ternyata, angeun lada telah ditetapkan oleh pemerintahan sebagai salah satu warisan budaya tak benda khas nusantara. Hal tersebut terungkap saat merahputih.com bertemu dengan salah seorang birokrat di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten Rohaendi.

Ia mengatakan, dengan banyaknya jumlah kuliner khas di masing-masing daerah di nusantara, tidak mudah untuk meloloskan angeun lada untuk diakui sebagai warisan budaya tak benda.

"Pemprov berupaya dalam sidang untuk mempertahankan di hadapan para penguji dari kementrian pendidikan dan kebudayaan," katanya, Kamis (5/1).

Kepala Seksi Kesenian Dinas Kebudayaan dan pariwisata Banten ini menyebut, bahwa penetapannya ditandatangani pada 14 September 2016.


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH